November 14, 2006

BUSH BUSH BUUUUUUSH !

Handphone-ku sore itu berdering. Ada SMS masuk dari seseorang bernama Dandy. Isinya permintaan agar aku mengerahkan anak-anak didik dan seluruh stafku dalam demonstrasi menentang kedatangan George W Bush tanggal 20 Nopember yang akan datang…

Pemerintah kita ini benar-benar keterlaluan!. Bayangkan, duit 7 milyar dianggarkan untuk biaya penyambutannya. Itu baru biaya resmi. Biaya tersebut akan menjadi berlipat-lipat belasan, atau mungkin puluhan kali jika digabungkan dengan biaya tidak resmi yang langsung atau tidak langsung harus turut dibayar masyarakat; para pedagang yang tidak bisa berjualan, supir angkot yang tidak bisa narik, anak-anak yang tidak bisa bersekolah, para karyawan yang tidak bisa pergi ke kantor, dan lain-lain. Bahkan, sampai-sampai mang Karta, tukang bakso yang biasa nongkrong di depan rumahku, sudah jauh-jauh hari berencana libur pada tanggal tersebut. Alasannya sederhana, toko tempat dia biasa belanja bahan bakso di Pasar Bogor pasti tutup.

Iuran massal masyarakat yang jumlahnya puluhan milyar itu harus dikeluarkan untuk menyambut seorang tamu yang akan mampir sebentar saja. Hanya 10 jam!… Bagaimana jadinya jika si tuan Bush ini akan berkunjung 1 minggu atau 1 bulan. Kayaknya, masyarakat Bogor akan mendadak jadi fakir miskin semua, he he he

Kita wajib menghormati tamu karena agama mengajarkan demikian. Penyambutan yang luar biasa terhadap kedatangan George W Bush adalah sesuatu yang biasa saja. Begitu Maftuh Basyuni memberi "fatwa"…  Ya, memang, sejauh yang aku yakini, Islam –jika memang agama ini yang dimaksud Maftuh– mengajarkan keharusan menghormati tamu. Tapi, tamu yang bagaimana dulu dong ah!… Tamu harus dihormati jika dia menghormati kita. Apakah kita tetap harus menghormati tamu yang karena kedatangannya, sekian banyak orang menjadi tidak bisa makan, tidak bisa bekerja, tidak bisa sekolah, tidak bisa berjualan? Aku yakin, jaringan staff yang dimiliki oleh George W Bush yang jumlahnya bejibum itu mampu memasok informasi tentang hal itu kepadanya. Tapi, faktanya tidak ada langkah apapun dari pihak kedutaan besar amerika buat meminimalisir hal itu. Bahkan, minta permakluman pun tidak. Itu artinya, si Bush ini memang dasarnya bukan tamu yang baik… Tamu adalah pembawa rahmat. Begitu guruku slalu mengajarkan. Tapi, untuk kasus si Bush, otakku yang cetek ini tidak bisa menemukan di mana gerangan rahmat itu berada…

Aku jadi ingat cerita waktu kecil dulu. Bapakku sering kedatangan tamu. Namanya?…. Ehmmm, enggak aku sebutkan ah… Yang pasti dia ini seorang Kyai dan tokoh agama. Jika dia datang, ibuku selalu pontang panting menyediakan segala kebutuhannya. Apa yang tidak ada menjadi ada. Makanan, misalnya, yang sebelumnya biasa-biasa saja menjadi tidak biasa, baik jenis maupun rasanya. Bagiku waktu itu, saat kedatangannya adalah saat di mana aku siap-siap menelan ludah, bahkan saatnya kelaparan. Bagaimana tidak, si tamu besar ini tidak akan menyisakan apapun yang di atas meja jika makan!!!… Tahu goreng yang jumlahnya tidak seberapa itu disikat habis. Begitu juga sayur, ikan, dan lain-lain. Sementara aku dan adik-adikku? Hanya menatap penuh iri dari kejauhan… Aku heran, bagaimana bisa seseorang seperti dia bisa makan begitu nikmat tanpa sedikitpun bertanya, apakah orang yang di belakangnya sudah makan?

Sebenarnya aku sudah mati-matian dari kemarin untuk tidak turut memikirkan masalah kedatangan si Bush ini. Toh dia bukan mau datang ke rumahku.  Kotaku, bahkan negeriku ini, sudah terlalu heboh oleh berbagai kontroversi wacana dan berbagai rencana aksi. Masak aku harus nambahin. Tapi, itu dia, dasar nasib. Sikap adem ayemku akhirnya terusik juga oleh banyaknya permintaan agar aku mengerahkan massa.

Si Dandy ini adalah anggota salah satu ormas Islam di kota Bogor. Ada 3 pihak lagi yang sebelumnya menghubungiku untuk urusan yang sama. Sikapku sendiri dari dahulu tidak berubah. Melarang keras seluruh muridku untuk terlibat berbagai aksi turun ke jalan. Bukannya aku tidak setuju. Laranganku semata-mata didasarkan kepada pertimbangan bahwa murid-muridku datang ke lembaga yang aku pimpin ini untuk satu tujuan: BELAJAR.. Tujuan mereka datang ke lembagaku ini dituangkan dalam satu lembar perjanjian yang harus mereka tanda tangani. Pake materai 6000 segala lagi!. Kalau mau ikut-ikutan demo, nantilah masanya akan tiba. Kapan? Ya nanti jika mereka sudah lulus sekolah, jika kemerdekaan untuk bersikap sudah dikembalikan oleh pihak lembaga kepada masing-masing muridku. Saat ini, ya wayahna, apa yang menjadi sikap resmi lembaga harus juga menjadi sikap resmi mereka…

Terus, bagaimana dong harusnya kita menyambut si tuan Bush ini? saranku, ya, yang biasa-biasa aja sih. Yang bagaimana tuh? Yaaaa yang pantes-pantes aja sih. Lha iya, tapi yang bagaimana maksudnya? Yaaaaaaaaaa pokoknya yang wajar-wajar lah!… IYAAAAA, yang wajar itu bagaimana? Aaaahh pokoknya gitu deh… Gitu deh gimana? Udah ah, pusing gue jadinya….

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://iqbalharafa.blogsome.com/2006/11/14/bush-bush-buuuuuush/trackback/

  1. begitulah penguasa yang mendewakan bush (semak belukar) itu. Yach, gimana juga ya… gue sih cuma mengucapkan selamat berduka aja, apalagi sinyal HP bakalan diacakadut.

    moga-moga aja Semak Belukar itu dapat pelajaran dari kunjungan sebentarnya nanti…

    Comment by MT — November 16, 2006 @ 4:12 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.