June 4, 2008

TANGAN DI ATAS: TERBAIK

Rasa bangga mulai bersemi dalam hati saya saat mengamati perkembangan yang terjadi di Koppontren Daarul Uluum. Unit pengolahan susu, misalnya, terus berkembang. Order pembuatan barang-barang berbahan kayu terus diterima dari salah satu perusahaan. Invetaris dan asset koppontren terus bertambah dan berkembang. Aku hanya tersenyum saat Pak Saepuddin melaporkan bahwa koperasi sudah mampu mengkredit sebuah sepeda motor operasional.
Memiliki unit-unit usaha yang akan menopang operasi dan kegiatan pesantren adalah salah satu impian saya sejak lama. Misi pesantren terlalu luhur untuk dapat dibiayai hanya oleh uang iuran para santri atau uang shadaqah masyarakat. Jika hanya mengandalkan itu, tidak banyak yang akan bisa dilakukan oleh pesantren semacam Daarul Uluum. Lingkup aktifitasnya hanya akan berputar dari itu ke itu saja. Di benak banyak orang, pesantren, umumnya, selalu diposisikan sebagai lembaga “penerima” dan lembaga “penyalur” dana-dana sosial.
Anggapan seperti itu tidak salah. Namun, membiarkan pesantren selalu dalam posisi itu, bagi saya, sangatlah naif. Hal itu, seolah-olah, memosisikan pesantren sebagai lembaga yang baru akan “bergerak” jika ada pihak yang membiayai. Bagi saya, cara berpikir semacam itu harus dirubah. Secara finalsial, pesantren harus digiring untuk tidak hanya menjadi lembaga penerima dan penyalur, tetapi lembaga “pemberi.” 
Ya, pemberi. Pesantren harus mampu membiayai sendiri segala aktifitasnya tanpa mengandalkan pihak luar. Dan, itu hanya bisa tercapai jika pesantren mulai mau mengembangkan sayap-sayap usaha yang akan memberikan keuntungan finansial. Sangat banyak peluang-peluang usaha dilingkungan internal dan eksternal pesantren yang dapat di angkat dan dikembangkan. Masalahnya hanya apakah pesantren memiliki cukup sumber daya manusia atau tidak. Sumber daya pengurus yang memiliki kepekaan untuk dapat mengembangkan berbagai peluang usaha komersial tersebut, demi kemajuan pesantren.  
Nabi SAW pernah menegaskan bahwa “tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah.” Koppontren Daarul Uluum memiliki tugas suci untuk merubah posisi “tangan” pesantren menjadi di atas. Semoga Pak Saepuddin, Ustadz Hasbullah, dan rekan-rekan pengurus koppontren lainnya, dapat menunaikan tugas luhur ini. Amin… Bravo untuk Koppontren Daarul Uluum!…

April 27, 2008

Akhirnya Ishlah

Seperti yang sudah direncanakan, pertemuan itupun terjadi. Asep Setiawan, ayahnya Abdul Aziz, yang telah menunggu di ruang kantor menyambut kedatangan saya dengan pelukan. Kata maaf terucap lirih dari mulutnya. Kubalas dengan anggukan kepala sambil menanyakan keadaan kesehatannya. Saya persilahkan ia duduk, dan pembicaraanpun mengalir. Kuawali pembicaraan siang itu dengan memaparkan bagaimana situasi terakhir pesantren berkenaan dengan persoalan pemecatan anaknya sebagai santri. Kujelaskan bagaimana efek domino yang kemudian terbentuk setelah ia mengadukan masalah itu ke DPRD Kota Bogor, khususnya ke beberapa anggota fraksi PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Karena aduannya itu, masalah pemecatan santri, yang sebetulnya murni masalah akademik dan murni masalah internal pesantren, telah bergeser ke masalah politik. Bergesernya masalah ini menjadi issu politik diawali oleh tidak elegannya gaya komunikasi yang dibangun oleh Ahmad Sukarno dan Ani Sumarni, dua anggota fraksi PKS, terhadap Daarul Uluum. Nada pertanyaan dan pernyataan-pernyataan yang disampaikan keduanya jelas-jelas tidak menunjukan sikap “tabayyun,” yaitu mencari tahu lebih dahulu apa duduk persoalannya tanpa mengambil kesimpulan apapun. Ani Sumarni lebih parah lagi. Nada ancaman sempat keluar dari mulutnya. Ia mengancam akan mengadukan masalah ini ke Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Kantor Departemen Agama Kota Bogor jika dalam waktu tertentu Daarul Uluum tidak meninjau ulang keputusan pemecatan itu. Kesalahan itu mengakibatkan tersulutnya amarah seluruh civitas pesantren dari level teratas sampai level terbawah. Sikap kedua anggota dewan itu serta-merta ditafsirkan sebagi upaya campurtangan atas urusan internal pesantren. Tidak hanya itu, sikap keduanya bahkan dinilai sebagai sebuah “serangan” terhadap nama baik dan kehormatan pesantren. Terlebih lagi saat Ani Sumarni ternyata membuktikan ancamannya. Ustadz Syahidin, Kepala MA Daarul Uluum, yang memang sebelumnya telah saya persiapkan kondisi psikologisnya, dipanggil dalam sebuah pertemuan –atau, mungkin, persidangan?– yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Kantor Depag Kota Bogor. Tak pelak, tindakan itu telah “mengobarkan” semangat seluruh civitas pesantren untuk membela dan melindungi kehormatan sang almamater. Semangat anti PKS, partai asal kedua anggota dewan itu, pun berhembus di semua lini. Saya nyatakan ke kalangan santri bahwa kelakuan kedua anggota PKS tersebut adalah sebuah pengkhianatan terhadap kepercayaan yang sudah diberikan oleh nyaris 100% santri saat pemilu dahulu. Dan, oleh karenanya, tanpa ragu, Daarul Uluum pun saya nyatakan haram dimasuki oleh mereka sampai ada klarifikasi lebih lanjut. Ustadz Nasrudin Latief, Ketua Pengurus Yayasan Pesantren Daarul Uluum, pun memperkuat spirit yang sudah terbentuk. Beliau bahkan mengancam akan “mengacak-acak” PKS Kota Bogor jika mereka terus mengembangkan masalah ini dan mengusik Daarul Uluum. Ustadz Faruk Azizi, Direktur Kampus 2, yang kebetulan tengah menjalin hubungan manis dengan para aktifis PKS di Kabupaten Bogor, pun turut bereaksi dengan memutus seluruh jalur komunikasi yang sudah terbentuk. Kepanikan sempat melanda PKS kabupaten. Tidak ketinggalan, reaksi yang kurang lebih sama kerasnya ditunjukkan pula oleh para guru, karwayan, santri, wali santri, jaringan alumni, masyarakat di sekitar kampus 1 dan kampus 2. Jangan lupakan pula reaksi solidaritas dari organisasi-organisasi dan kelompok-kelompok massa yang selama ini ada di belakang Daarul Uluum. Seorang koordinator gerakan pemuda di Bantarkemang bahkan mengancam akan melakukan segala langkah yang diperlukan untuk mensukseskan program “Bantarkemang yang Steril dari PKS.” Di internet, Website PKS serta blog-blog anggotanya diserang oleh jaringan blogger Daarul Uluum. Bahkan, seorang alumni Daarul Uluum yang memiliki keahlian hacking, sempat meminta restu untuk meng-hack situs-situs PKS. Tekanan balik yang bertubi-tubi tersebut, tak pelak, sempat menimbulkan kekhawatiran beberapa pengurus PKS, terutama kedua orang anggota legislatif yang sudah disebutkan di atas. Asep Setiawan, saat diberi kesempatan berbicara, menyampaikan bahwa keduanya tidak menyangka jika kasus ini akan menjadi bola panas.